Meneladani Sifat Kejujuran Rasulullallah SAW

Pada awal kerasulannya, Nabi Muhammad SAW pernah bertanya kepada kaum Quraisy, “Bagaimana pendapatmu sekalian kalau kukatakan bahwa pada permukaan bukit ini ada pasukan berkuda? Percayakah kalian?”

Jawab mereka, “Ya, engkau tidak pernah disangsikan. Belum pernah kami melihat kau berdusta.” (Muhammad Husain Haikal, Sejarah Hidup Muhammad, hal 121-122).

Jawaban orang Quraisy itu disampaikan secara spontan karena yang bertanya adalah Muhammad bin Abdullah. Sosok yang mereka gelari sebagai Al-Amin, otang yang dipercaya.

Terdapat fenomena unik dari pemberian gelar Al-Amin tersebut. Pertama, gelar Al-Amin lahir dari mulut orang-orang Quraisy. Padahal, sejarah mencatat bahwa peradaban Quraisy saat itu dan jazirah Arab umumnya berada di tengah peradaban Jahiliyyah. Sebuah peradaban yang sudah tidak bisa lagi membedakan antara yang hak dan batil, antara yang halal dan haram. Sebuah peradaban yang sudah sangat rusak dan bobrok.

Kejujuran Muhammad bin Abdullah tidak luntur oleh peradaban di sekelilingnya. Justru orang-orang yang hidup di peradaban jahiliyah itu (Quraisy) secara sukarela memberikan penghargaan kepada kejujuran Muhammad dengan menggelarinya Al-Amin.

Hikmah pertama dari gelar ini, sepertinya Allah ingin memberikan pelajaran bahwa kejujuran adalah sebilah mata uang yang tidak saja akan senantiasa berlaku, tapi juga akan selalu berharga di manapun dan kapan pun, sekalipun di tengah peradaban yang carut-marut.

Kedua, gelar Al-Amin ini telah diberikan oleh orang-orang Quraisy jauh sebelum masa kerasulannya, kira-kira pada usia 15-20 tahun. Penganugerahan gelar Al-Amin yang sudah melekat jauh sebelum Muhammad diangkat sebagai Rasul ini mengendung pelajaran bahwa kejujuran adalah modal awal selakigus sebaik-baiknya modal untuk menempuh kehidupan.

Baik dalam kedudukan Muhammad selaku hamba Allah maupun sebagai khalifah di muka bumi, tidak terkecuali dalam menjalankan amanah kepemimpinan di hadapan sesama umat manusia.

Lawan dari kejujuran adalah perilaku dusta. Mengenai hal ini, Rasulullah berpesan, “Hendaklah kamu sekalian menjaga diri dari berperilaku dusta. Sesungguhnya dusta akan selalu membawa kepada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan setiap kejahatan akan menyeret pelakunya ke dalam neraka.”

Source: Khazanah Republika

Leave a Comment