Inilah Doa Minum Air Zam-Zam yang Bisa Kamu Praktekkan

Assalammualaikum, hari ini kita akan membahasa tentang doa ketika minum air zam-zam dan pastinya akan membuat kamu lebih sehat. Sebenarnya banyak juga keutaman, sejarah dan lainnya dari air zam-zam yang perlu kamu ketahui. Karena Air zam-zam sendiri banyak menyimpan cerita yang penuh makna dan hikmah. Sebelum ke Doanya kita belajar tentang sejarahnya.

Sejarah Air Zam-Zam

Air Zam-zam bukanlah air yang asing bagi kaum muslimin. Air ini mempunyai keutamaan yang sangat banyak. Rasululah telah banyak menjelaskan manfaat dari air ini. Beliau bersabda,”Sebaik-baiknya air yang ada di muka bumi ini adalah Zam-Zam. Di dalamnya teradapat makanan yang mengenyangkan dan penawar penyakit.” Apa rahasia dibalik air yang banyak menyimpan khasiat dan penuh barokah?

Makna Zam-Zam

Kata Zam-Zam dalam bahasa Arab yang berarti, yang banyak atau melimpah. Adapun air Zam-zam yang dimaksud oleh syari’at, yaitu air yang berasal dari sumur Zam-Zam. Air Zam-zam ini berletak dekat dengan Ka’bah, sekitar 38 hasta.

Kenapa dinamakan Zam-Zam, karena sesuai dengan airtinya, karena air ini dari sumur banyak mengeluarkan air sangat banyak dan melimpah. Tidak habis walaupun sudah diambil dan dibawa setiap harinya ke seluruh dunia oleh kaum Muslimin.

Nama Zam-Zam bisa juga diambil dari perbuatan Siti Hajar. Katika air Zam-Zam terpancar, ia segera mengumpulkan dan membendungnya. Atau diambil dari galian Malaikat Jibril dan perkataannya, ketika ia berkata kepada Hajar.

Ada yang menyebut bahwa nama Zam-zam adalah ‘alam, atau nama asal yang berdiri sendiri, bukan berasal dari kalimat atau kata lain. Atau juga nama Zam-zam diambil karena zamzamatul ma’ adalah suara air itu sendiri.

Zam-Zam juga memiliki nama lainnya sebagaimana telah diketahui ialah, barrah (kabaikan), madhmunah (yang berharga), taktumu (yang tersembunyi), hazmah Jibril (galian Jibril), syifa’ suqim (obat penyakit), tha’amu tu’im (makanan), syarabul abrar (minuman orang-orang baik), thayyibah (yang baik).

Munculnya Air Zam-Zam

Diriwayatkan oleh Imam al Bukhari dalam Shahih-nya, dari hadits Ibnu ‘Abbas. Suatu saat, di Mekkah, Nabi Ibrahim menempatkan istrinya Hajar dan anaknya Ismail di sekitar Ka’bah, di suatu pohon besar yang berada di atas sumur Zam-Zam. Pada saat itu, tidak ada seorang pun di Mekkah, melainkan mereka bertiga. Setelah Nabi Ibrahim Alaihissalam meletakkan kantong berisi kurma dan air, beliaupun beranjak pegi. Namun Hajar mengikutinya seraya berkata,”Wahai Ibrahim, kemanakah engkau akan pergi dengan meninggalkan kami sendiri di tempat yang tiada mausia lain atau yang lainnya?”

Pertanyaan itu ia ulangi terus, namun Nabi Ibrahim tidak menengok kepada istrinya Hajar. Sampai akhirnya Hajar berseru kepadaya,”Apakah Allah yang menyutuhmu melakukan hal ini?”

Nabi Ibrahim menjawab “Ya”

“Kalau begitu, Allah tidak akan menyengsarakan kami,” seru Hajar. Kemudian kembalilah Hajar ke tempatnya, dan Nabi Ibrahim pun terus melanjutkan perjalanannya.

Sesampainya di Tsaniyah jalan bebukitan, arah jalan ke Kada’. Rasulullah ketika memasuki Mekkah juga melewati jalan tersebut dan keluarganya tidak dapat melihatnya lagi, Nabi Ibrahim ke arah baitullah, lalu mengangkat kedua tangannyya seraya berdoa:

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka, dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (Q.S Ibrahim Ayat 37)

Ibunda Ismail, Hajar menyusui anaknya dan meminum dari kantong air tersebut. Pada akhirnya air itupun habis dan ismail pun kahausan. Hajar melihat anaknya dengan penuh cemas, karena terus menangis. Hajar pun pergi untuk mencari sumber air, karena tidak tega melihat anaknya kehausan. Pergilah Hajar menuju bukit terdekat, yaitu bukit Shafa dan berdiri di atasnya. Pandanganya diarahkan ke lembah sekelilingnya, melihat apakah ada orang disana. Namun, ternyata tidak ada.

hajar pun turun melewati lembah sampai ke bukit Marwa. Berdiri diatasnya dan memandang apakah ada manusia disana? Namun, ternyata tidak juga. Hajar melakukan itu sebanyak hingga tujuh kali.

Ketika berada di atas bukit Marwa, Hajar mendengan ada suara, Hajar pun berkata kepada dirinya sendiri,”Diam!” Setelah diperhatikannya ternyata memang benar dia mendenganr suara, kemudian hajar pun berkata,”Aku telah mendengar, apakah di sana ada pertolongan?”

Tiba-tiba dia melihat Malaikat Jibril, yang mengais tanah dengan kakinya (atau dengan sayapnya, sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang lain), kemudian memukulkan kakinya di atasnya. Maka pada saat itu keluarlah pancaran air dari dalam tanah.

Hajar pun bergegas mengambil dan menampungnya. Diciduknya air itu dengan tangannya dan memasukkannya ke dalam tempat air. Setelah diciduk, air tersebut justru semakin memancar. Lalu hajar pun memnum air tersebut dan juga memberikan kepada putranya, Ismail. Malaikat Jibril pun berkata kepadanya, “Jangan takut terlantar. Sesungguhnya, di sinilah Baitullah yang akan dibangun oleh anak ini (Ismail) bersama ayahnya (Ibrahim). Dan Sesungguhnya, Allah tidak akan menelantarkan hambanya.”

Beberapa saat kemudian, datanglah orang-orang dari kabilah Jurhum turun ke lembah Makkah. Mereka turun karena melihat burung-burung yang berputar-putar. Mereka berkata,”Burung ini berputar-putar di sekitar air. Dan kami yakin bahwa di lembah ini ada air,” lalu mereka mengirim utusan dan ternyata benar mereka mendapatkan air. Lalu utusan itupun kembali dan membritahukan kepada orang-orang yang mengutusnya tentang adanya air. Merekapun kemudian mendatangi dan meminta izin dari Ummu Ismail, bahwa mereka akan singgah ke sana. Ummu Ismail pun mempersilahkan dengan adanya syarat. Syaratnya mereka tidak berhak memiliki (sumber) air tersebut, dan kabilah Jurhum pun setuju.

Penemuan Kembali Air Zam-Zam

photodijea.blogspot.com
photodijea.blogspot.com

Pada saat Abdul Muthalib sedang tidur di Hijr Ismail, beliau mendengar suara yang menyuruhnya menggali tanah.

“Galilah thayyibah (yang baik)!”

“Yang baik yang mana?” tanya Abdul Muthalib.

Besoknya, beliau kembali tidur tempat yang sama, lalu beliau mendengar lagi suara yang sama, menyuruhnya menggali barrah (yang baik)?

Lalu beliau bertanya,”Benda yang baik mana?” Lalu dia pergi.

Keesokan harinya, beliau tidur di tempat yang sama lagi di Hijr Ismail, dia mendengar lagi suara yang sama, menyuruhnya menggali madhmunah (sesuatu yang berharga).

Beliau bertanya, “Benda yang baik yang mana?”

Pada akhirnya di hari keempat dikatakan kepadanya: “Galilah Zam-Zam!”

Beliau bertanya,”Apa itu Zam-Zam?”

Lalu Abdul Muthalib menjawaban: “Air yang tidak kering dan tidak meluap, yang denganya engkau memberi minum para haji. Lalu dia terletak di antara tahi binatang dan darah. Berada di patukan gagak yang hitam, berada di sarang semut.

Sesaat Abdul Muthalin kebingunan dengan lokasi tersebut, pada akhirnya ia mendapat kejelasan dengan melihat kejadian yang diisyaratkan kepadanya. Kemudian iapun bergegas menggalinya.

Orang-orang Quraisy pun penasaran apa yang sedang dikerjakan Abdul Muthalib ini dan bertanya kepadanya,”Apa yang engkau kerjakan, wahai Abdul Muthalib?”

Lalu beliau menjawab,”Aku diperintahkan untuk menggali Zam-Zam,” Pada akhirnya ia dengan anaknya, Harits mendapatkan apa yang diisyaratkan kedalam mimpinya, menggali kembali sumur Zam-Zam yang telah lama dikubur dengan sengaja oleh suku Jurhum, tatkala mereka terusir dari kota Mekkah.

Manfaat Air Zam-Zam

Dari penjelasan Rasulullah dan para ulama terdahulu kita mengetahui, bahwa air Zam-Zam banyak memiliki barakah dan keutamaan. Di antara dalil-dalil yang banyak menunjukkan keutamaan air Zam-Zam dapat kita sebut sebagai berikut.

(عَنْ جَابِرٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: مَاءُ زَمْزَمَ لمِاَ شُرِبَ لَهُ (أخرجه أحمد وابن ماجه

“Dari Jabir dan Ibnu ‘Abbas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Air Zam-Zam, tergantung niat orang yang meminumnya.”

Ibnu taimiyyah juga berkata, “Seseorang disunnahkan untuk meminum air Zam-Zam sampai benar-benar kenyang dan berdoa ketika meminumnya dengan doa-doa yang dikehendakinya. Tidak disunnahkan mandi dengan (menggunakan air Zam-Zam).”

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قاَلَ قَالَ رَسُوْلُ الله ِصَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاءُ زَمْزَمَ لمِاَ شُرِبَ لَهُ إِنْ شَرِبْتَهُ تَسْتَشْفِي شَفاَكَ الله ُوَإِنْ شَرِبْتَهُ لِشَبْعِكَ أَشْبَعَكَ الله ُوَإِنْ شَرِبْتَهُ لِقَطْعِ ظَمْئِكَ قَطَعَهُ اللهُ وَهِيَ هَزْمَةُ جِبْرَائِيلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَسُقْيَا اللهِ إسْمَاعِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ
(رواه الدارقطني والحاكم وقال صحيح الإسناد)

“Dari ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anh, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Air Zam-Zam sesuai dengan niat ketika mininumnya. Bila Engkau meminumnya untuk obat, semoga Allah menyembuhkanmu. Bila engkau meminumnya untuk menghilangkan dahaga, semoga Allah menghilangkannya. Air Zam-Zam adalah galian Jibril, dan curahan minum dari Allah kepada Ismail.”

وَعَنْ أَبِيْ الطُّفَيْلِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُوْلُ كُنَّا نُسَمِّيْهَا شَبَّاعَةً يَعْنِيْ زَمْزَمَ وَكُنَّا نَجِدُهَا نِعْمَ الْعَوْنُ عَلَى الْعِيَالِ

(رواه الطبراني في الكبير)

“Dari Abi Thafail, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda,”Kami menyebutkan aor Zam-Zam dengan syuba’ah (yang mengenyangkan). Dan kami juga mendapatkan, air Zam-Zam adalaha sebaik-baiknya pertolongan (kebutuhan atas kemiskinan”. [Hadist Riwatat Tabrani]

(إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَا بِسِجِلٍّ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ فَشَرِبَ مِنْهُ وَتَوَضَّأ (واه أحمد

“Dari Usamah, bahwasanya Rasullulah meminta untuk didatangkan segantan air Zam-Zam, kemudian beliau memunumnya dan berwudhu dengannya” [Hadist Riwayat Ahmad]

إِنَّ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ حِيْنَ رَكَضَ زَمْزَمَ بِعَقِبِهِ جَعَلَتْ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ تَجْمَعُ الْبَطْحَاءَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ : رَحِمَ اللهُ هَاجِراً وَأُمَّ إِسْمَاعِيْلَ لَوْ تَرَكَتْهَا كاَنَتْ عَيْنًا مَعِيْنًا.

Tatkala Jibril sedang memukul Zam-Zam dengan tumit kakinya, Ummi Ismail segera mengumpulkan luapan air. Nabi berkata,”Semoga Allah merahmati Hajar dan Ummu Ismail. Andai ia membiarkannya, makan akan menjadi mata air yang menggenangi (seluruh permukaan tanah).”

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قاَلَ قَالَ رَسُوْلُ الله – صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: “خَيْرُ مَاءٍ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ مَاءُ زَمْزَمَ، فِيْهِ طَعَامُ الطَّعْمِ، وَشِفَاءُ السَّقْمِ”،

“Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baiknya air yang berada di muka bumi adalah Zam-Zam. Di dalamnya terdapat makanan yang mengenyangkan dan penawar penyakit.”

Abu Dzar al Ghifari juga berkata,”Selama 30 hari, aku tidak mempunyai makanan kecuali air Zam-Zam. Aku menjadi gemuk dan lemak perutku menjadi sirna. Aku tidak mendapatkan dalam hatiku kelemahan lapar.”

: كُنْتُ أُجَالِسُ ابْنَ عَبَّاسٍ بِمَكَّةَ فَأَخَذَتْنِيْ الحْمُىَ فَقَالَ أَبْرِدْهَا عَنْكَ بِمَاءِ زَمْزَمَ فإَِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ( الْحُمَى مِنْ فيَحْ ِجَهَنَّمَ فَأَبْرِدُوهَا بِالْمَاءِ أَوْ قاَلَ بِمَاءِ زَمْزَمَ ) .

“Dari Hammam, dari Abi Jamrah ad-Duba’i, ia berkata: “Aku duduk bersana Ibnu ‘Abbas di Mekkah, tatkala demam menyerangku. Ibnu ‘Abbas mengatakan, dinginkanlah dengan air Zam-Zam, karena Rasululah mengatakan, bahwa sesungguhnya deman adalah dari panas Neraka Jahannam, maka dinginkanlah dengan air atau air Zam-Zam”

Berkata Ibnul Qayyim,”Aku dan selain diriku telah banyak mengalami perkara yang luar biasa tatkala berobat dengan air Zam-Zam. Dengan izin Allah, aku telah sembuh dari beberapa penyakit yang menimpaku. Aku juga menyaksikan seseorang yang telah menjadikan air Zam-Zam sebagai makanannya selama beberapa hari, sekitar setengah bulan atau lebih. Beliau tidak mendapatkan rasa lapar, ia melaksanakan thawaf sebagaimana manusia yang lain. Beliau telah memberitahukan kepadaku bahwa ia terkadang seperti itu selama empat puluh hari. Ia juga mempunyai kekuatan untuk berjima’ berpuasa dan melaksanakan thawaf.”

Doa Ketika Minum Air Zam-Zam

muslimvillage.com
muslimvillage.com

Ada berapa hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau pernah meminum air Zam-Zam sambil berdiri. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bin ‘Abdul Mutholib.

سقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم ‏من زمزم وهو قائم

“Aku pernah memberikan minum air zam-zam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau meminumnya sambil berdiri.” [Hadist Riwayat Bukhari]

Begitu pula yang diriwayatkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa manfaat dari air Zam-Zam itu tergantung dari maksud orang yang meminumnya. Dari sini para ulama terdahulu menarik kesimpulan bahwa doa yang dibaca setelah meminum air Zam-zam adalah doa yang mustajab.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ماء زمزم لما شرب له

“Air Zam-Zam tergantung orang yang meminumnnya” [Hadits Riwayat Ahmad, Al Hakim dan Ad Daruquthiny dari Ibnu ‘Abbas, juga diriwayatkan oleh Ahmad dari Jabir]

Ada doa yang dipraktekkan oleh Ibnu Abbas, namun ini bukan perkataan Nabi. Ia berdoa sambil minum air Zam-Zam,

اللهم إني أسألك علماً نافعاً، ورزقاً واسعاً، وشفاءً من كل داء

Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon waasi’an wa syifa’an min kulli daa-in

“Ya Allah aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizqi yang luas dan kesembuhan dari segala macam penyakit.”

Pada intinya, meminum air Zam-Zam dengan cara:

  • Berniat dengan niatan yang baik.
  • Berdoa kepada Allah setelah meminum air Zam-Zam.

Wallahu’alam. Semoga Allah memberikan keberkahan, kesembuhan dan rahmat dari meminum air Zam-Zam.

Leave a Comment