Inilah Asal Usul Kota Pontianak

Kota Pontianak, merupakan ibukota provinsi Kalimantan Barat yang mencakup wilayah seluas 107, 82 Km2 terdiri dari 6 kecamatan. Pontianak tepat dilintasi garis Khatulistiwa yaitu pada 0o 02’24″Lu0o 05′ 37″ LS dan 109o 16′ 25″ BT-109o 23′ 23′ 01″ BT. Kota Pontianak disebut juga dengan kota Khatulistiwa oleh banyak orang baik dalam negeri maupun mancara negara.

Kota Pontianak, awal mulanya didirikan dengan struktur masyarakat, wilayah pada tahun 1771 dan kemudian menjadi pusat pemerintahan Kesultanan pada tahun 1778 oleh Syarief Abdurahman Al-Kadrie.

Sejarah memulai, menjelang subuh 14 Rajab 1184 H atau 23 Oktober 1771, Syarief Abdurrahman memimpin dan menebas hutan diujung delta Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Beliau juga mendirikan tempat beribadah dan rumah sederhana di daerah itu. Dan kemudian beliatu jadikan tempat itu dinamakan Pontianak.

Ada beberapa referensi sumber tulisan tentang berdirinya Kota Pontianak, antara lain:

  1. Pada hari Rabu, tanggal 14 Rajab 1185 H atau bertepatan dengan 23 Oktober 1771 dijadikannya sebagai hari berdirinya daerah Pontianak.
  2. P J Veth dalam Borneo’s Westerafdeeling I ; 15 menuliskan bahwa Syarief Abdurrahman berangkat meninggalkan Mempawah pada tanggal 23 November 1771 beserta pengikutnya mendirikan masjid. Pada tanggal 7 January 1772 di wilayah delta pertemuan Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Landak, Syarif Abdurrahman dan pengikutnya membuka hutan dan mendirikan pemukiman baru.
  3. Menurut J H Meyer, Syarif Abdurrahman berangkat dari Mempawah menyusuri Sungai Kapuas 25 November 1771.
  4. Yacob Ozinga dalam bukunya; De Economiche Outwekkeling de Werteradfeeling Van Borneo ene Bevolkkings Rubber Cultuur, menafsirkan pendapat Schricke yang menulis bahwa hari jadi kota Pontianak jatuh pada hari rabu pada tanggal 23 Oktober 1771.

Penamaan Pontianak sebagai nama dari daerah (kota) ini sendiri dapat dilihat dari beberapa perspektif.

Pertama: Cerita-cerita rakyat (folklor) penamaan Pontianak berawal dari istilah hantu Kuntilanak atau hantu perempuan. Adanya hantu Kuntilanak yang konon dulunya banyak terdapat di daerah delta pertemuan Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Landak.

Alkisah, ketika awal rombongan Syarief Abdurrahman sampai di sekitaran daerah ini. Banyak gangguan da suara-suara yang mengerikan. Gangguan pada malam hari itu yang ditafsirkan sebagai hantu jahat, hantu Kuntilanak, membuat takut kerabat serta anak buah yang berada pada perahu. Keesokan harinya mereka tidak meneruskan perjalanan, sambil memperhatikan situasi di sekitarnya.

Pada siang hari pun mereka ditakuti oleh suara-suara mengerikan. Malam berikutnya rombongan mereka pun mendapatkan gangguan-gangguan dari suara serupa hantu dan gangguan lainya. Karena selalu di ganggu oleh hantu jahat yang dimanifestasikan hantu Kuntilanak tersebut. Kemudian sebagai upaya untuk menggusirnya, Syarif Abdurrahman menembakkan merian. Dari cerita itulah, kemudian daerah ini disebut dengan Pontianak. Perspektif ini tersebar luas sebagai asal usul penamaan kota Pontianak.

Ada juga pendapat yang mengatakan, gangguan yang menakutkan itu sesungguhnya adalah para perampok dan penjahat yang banyak terdapat di perairan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Daerah ini memang sebelumnya dikenal strategis sekaligus rawan. Sebagai tempat persembunyian para perampok dan penjahat didaerah pertigaan pertemuaan kedua sungai itu.

Kedua: Cerita rakyat (folklor) melayu yang medasari penamaan Pontianak berasal dari arti ayunan anak. Konon, cerita ini berdasarkan pada cerita ketika masjid Jami’ didirikan ada banyak ayunan anak dari keluarga yang dipekerjakan. (Ja’achmad dan J U Lontaan).

Ketiga: Penamaan kota Pontianak sendiri berasal dari nama ‘pohon punti’. Penyebutan pohon punti, sebagai bukti sejarah keberadaanya termaktub pada baris keempat belas surat antara Husein bin Abdul Rahman Al-Idrus (rakyat negeri Pontianak) kepada Sultan Syarief Yusuf Al-Kadrie. Tertulis..

Maka di dalam itu watasan telah ada juga pohon-pohon hamba tunaku yang sudah bertanam memang disitu, embawang ada 3 dan rambai 8 dan keranji 2, dan buluh 7 dan pohon punti 1 dan pohon kandis 1 dan beberapa pula sagu yang hamba tunaku tanam di dalam sungai itu ada 6 rumpun yang besar dan yang kecil ada lebih kurang dari ratus batang. (Henry Chambert Lair. Sultan, Pahlawan dan Hakim. 2011, hal107)

Berkenaan juga dengan kata ponti  bersumber dari kata pon dan ti yang berarti ‘pohon tinggi’. Tentu sangat beralasan, sebagai kawasan yang ada di pulau Kalimantan tentunya di daerah ini dulunya banyak juga terdapat pohon-pohon yang tinggi. Ponti untuk Pohon Tinggi juga menjadi sesuai dengan manifestasi Pohon Punti diatas. Para orang tua bilang pohon ini tinggi dan besar walau tidak juga menjadi besar sekali. Penyebutan Pontianak sendiri pun bagi sebagian masyarakat di tepian sungai Kapuas Kecil dulunya hingga sebagian sekarang ini dengan sebutan Pontianak.

Keempat: Pontianak juga berasal dari kata Pontian. Nama Pontianak sendiri adalah sebutan dari kata perhentian. ‘PERHENTIAN’ yang bermaksud dengan tempat persinggahan. Hal ini juga sangat beralasan, karena delta Sungai Kapuas dan Sungai Landak sangat strategis sebagai jalur perdaganan dari hilir (luar Kalimantan) sebelah barat daya menuju hulu (pedalam) dan juga tempat kapal-kapal para pedagang yang hendak berlindung dari badai dan ombak besar di laut Cina Selatan, atau laut Natuna. Ilustrasi sederhananya adalah setelah kapal-kapal tersebebut mengarungi laut, masuk kedalam muara sunga dan beristirahat sejenak di daerah ini. Sebelum kemudian melanjutkan perjalanan lebih ke dalam.

Penamaan nama daerah daru asal muasal penamaan Pontian juga terdapat di salah satu daerah di Negeri Johor, Malaysia. Terletak 62 kilometer dari Johor Bahru, ibu kota negeri Johor. Ibu kotanya disebut Pontian Kechil. Daerah Pontian ini berasal dari kata Pontian “perhentian” ini merupakan sebuah tanjung yang digunakan sebagai daerah perhentian kapal-kapal pedagan yang hendak berlindung dari badai dan ombak besar. Dibangun oleh saudagar dari Singapura yaitu Syed Alsagoff. Selain itu, nama pontian sebagai nama daerah juga terdapat di kecamatan Lubuk Batu Jaya Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, Indonesia, disana terdapat nama desa Pontian Mekar.

Kelima: Pontianak dalam pelafalan bahasa Mandarin adalah Kun Tian (kun tien, dalam pelafalan Hanyu Pinyin. Kun dian dalam bahasa Mandarin). Kata kun tian dapat diartikan dengan ‘tempat perhentian; Dialek pelafadzan kun tian bagi sebagian besar masyarakat tionghoa biasanya ada sedikit penambahan lafadz tanpa menambah arti, hanya sebatas dengan kata terakhir saja. Seperti;tak ada uang(nga), naik oto(aa), (a). begitu juga kun tian (na). Dari pelafadzan inilah kemudian menjadi Pontianak. Sampai sekarang pun sebagian besar orang tua-tua dari masyarakat Tionghoa masih menggunakan Kun Tian untuk menyebutkan Pontianak. Misalnya jika mereka ditanya ‘mau kemana?’ Kemungkinan dia akan menjawab ‘ke Kun Tian’ (na).

Keenam: Asal mula kata Pontianak juga berasal dari kata Pintu Anak. Maksud daerah ini sebagai pintu dari dua anak sungai yaitu sungai Kapuas dan sungai Landak. Penulisan beberapa perspektif atau sudut pandang dalam asal muasal penamaan Pontianak ini menjadi menarik. Sebagai sebuah penjabaran, bahwa ia juga tidak berasal dari hal yang tunggal dan tuntu saja bukan berarti satu perspektif menjadi benar dibanding dengan lainnya. Begitu juga sebaliknya, sebenarnya penamaan Pontianak merupakan satu kesatuan dari hal tersebut. Misalnya: Kata Pontianak yang kemudian menjadi nama Kota Pontianak berasal dari satu daerah persinggahan, perhentian (Pontian), di Pintu Anak Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang dari masyarakat Tionghoa disebut dengan ‘Kun Tian’ (na). Dimana banyak terdapat pohon punti atau pohon-pohon yang tinggi(ponti), serta pada awalnya banya mitos penampakan hantu perempuan yang menyeramkan (kuntilanak).

Pada titik inilah topomonimi (cabang antropologi tentang nama tempat, asal-usul, arti, penggunaan, dan topologinya) di Pontianak akan banyak menemukan titik yang lebih cerah. Yaitu ketika mitos, cerita rakyat dan hal-hal yang bersifat irrasional dapat bertemu dan saling melengkapi dengan penjelasan yang bersifat nalar, melalui narasi ilmiah, dara sejarah dan rasional.

Ahmad Asma dZ

Penulis Buku:

  • MENCARI RUANG PUBLIK di WARUNG KOPI. Fenomena Warkop dan Es Teler di Kota Pontianak, 2008
  • PONTIANAK KOTA KHATULISTIWA, Buku Panduan Wisata ke Kota Pontianak, 2010
  • PONTIANAK HERITAGE, 2013
  • MERIAM KE(a)RBIT. Menjaga Tradisi-Memberi Identitas, 2014
  • 10 WARUNG KOPI yang Patut Anda Kunjungi di Kota Pontianak, 2014

Leave a Comment